Kobaran Semangat Sumpah Pemuda Dalam Denyut Pengawasan Pemilu di Tanah Papua, Haritje Latuihamallo Ajak Pemuda Turun Tangan
Jayapura,infonarasi.com -Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda sering kali hanya menjadi peringatan simbolis atau momentum saja, tanpa menyentuh aspek substantif yang diinginkan oleh para pendahulu bangsa.
Menyikapi hal tersebut, Anggota Komisioner Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Papua sekaligus Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa, Haritje Latuihamallo, S.H., mengajak generasi muda Papua untuk mengimplementasikan nilai Sumpah Pemuda ke dalam denyut pengawasan pemilu.
Lewat keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (28/10/2026) malam, Haritje Latuihamallo menerangkan bahwa fondasi persatuan yang digagas pemuda tahun 1928 harus dirawat hari ini. “Sumpah pemuda jika kita menilik sejarahnya adalah momen di mana para pemuda menyadari bahwa perjuangan merebut kemerdekaan tidak lagi bisa dilakukan secara kedaerahan, tetapi harus sebagai satu bangsa yang memiliki fondasi persatuan dan kesatuan yang kokoh,” jelasnya.
Haritje Latuihamallo menilai pemuda memegang peranan krusial sebagai agen perubahan (agent of change) di garda terdepan demokrasi. Dengan karakteristik pemuda yang kritis, bersemangat, dan adaptif, keterlibatan mereka sangat krusial dalam menghadapi tantangan geografis dan sosial yang luas di Tanah Papua demi mengawal hak pilih rakyat.
Aksi nyata tersebut dapat ditunjukkan melalui empat langkah taktis kepemudaan:
- Kader Pengawasan Partisipatif: Ikut serta dalam program pendidikan pengawasan yang disediakan oleh Bawaslu.
- Gerakan Digital Sehat: Menggunakan ruang siber secara bijak lewat aksi periksa fakta (check-facts), menyuarakan gerakan anti-hoaks, serta tegas menolak praktik politik uang (money politic) maupun kampanye hitam.
- Ruang Literasi Publik: Menginisiasi ruang diskusi kepemiluan di area kampus, komunitas seni, organisasi kepemudaan, hingga lingkungan keluarga.
- Aksi Pelaporan Pelanggaran: Memiliki keberanian moral untuk melaporkan setiap temuan pelanggaran pemilu di lapangan secara langsung kepada jajaran pengawas pemilu terdekat.
“Keberanian moral untuk bersuara dan menolak segala bentuk kecurangan adalah bentuk ‘patriotisme modern’ yang sangat dibutuhkan oleh bangsa kita,” tegas Haritje Latuihamallo.
Ia menambahkan bahwa mewujudkan pemilu yang jujur dan adil secara optimal tidak bisa bertumpu pada penyelenggara pemilu saja tanpa adanya andil kaum muda.
Menurutnya, jika pemuda tahun 1928 mengangkat senjata demi kemerdekaan, pemuda masa kini wajib merawat kemerdekaan itu dengan menjaga kedaulatan suaranya di bilik suara.
“Momentum Sumpah Pemuda harus menjadi pengingat bagi kita semua, khususnya pemuda-pemudi di Tanah Papua, untuk turun tangan langsung menjaga kualitas demokrasi. Sebab, masa depan demokrasi Papua ada di tangan pemuda yang bersuara dengan jujur dan berani,” pungkas Haritje Latuihamallo di akhir keterangannya. (sg)







