Menakar Ulang Kompas Ideologi: Ketika Generasi ‘Sandwich’ dan Rasionalisme Teknologi Menguji Marhaenisme

JAKARTA, infonarasi.com – Di tengah gempuran kapitalisme global dan dominasi media digital, esensi ideologi sering kali direduksi secara sempit sebatas urusan elektoral partai politik dan perebutan kekuasaan semata. Padahal, ideologi bekerja jauh di dalam struktur berpikir manusia dalam memaknai kebebasan, keadilan, tatanan negara, ekonomi, kebudayaan, hingga menentukan sikap hidup sehari-hari.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Kursus IWAK (Ideologi dan Wawasan Kebangsaan) Seri #4 yang diinisiasi oleh Genmuda ISRI pada Jumat (21/8/2026) berkembang menjadi ruang dialektika yang sangat kritis. Keterangan resmi Genmuda ISRI yang diterima media, Minggu (23/8/2026) menyebutkan, forum bertema “Mengapa Kita Hidup Perlu Ideologi?” ini menghadirkan peneliti BRIN Dr. Hastangka, S.Fil., M.Phil., dan budayawan Erros Djarot.
Dipandu oleh moderator Astria Kusmaria, sesi diskusi berjalan hangat saat sejumlah peserta melemparkan sorotan tajam mengenai dinamika sosial terkini. Sudarsono, salah satu peserta, menyoroti fenomena generasi muda yang mengalami “overdosis rasionalisme teknologi” sehingga cenderung meninggalkan hal-hal idealis yang dianggap tidak realistis.
Sementara itu, tantangan riil lainnya ikut mencuat. Yudha mengangkat wacana mengenai kekhawatiran fenomena “animalisasi rakyat” dalam panggung politik praktis. Herman membahas problem struktural pelik yang dihadapi generasi sandwich serta tantangan sistem meritokrasi di dunia kerja. Di sisi lain, Jeri mempertanyakan masa depan Marhaenisme di bawah dominasi media digital, yang disusul oleh ajakan Bob agar para kader kembali turun mendengar langsung kenyataan persoalan konkret rakyat sebagai dasar gerakan perubahan.

Menanggapi dinamika tersebut, Ketua Umum Genmuda ISRI, Diasma Swandaru, menegaskan bahwa kebutuhan terhadap ideologi bukan sekadar urusan identitas kelompok atau romantisme sejarah pemikiran Bung Karno. Bagi Genmuda ISRI, Marhaenisme harus diposisikan sebagai kompas aktif untuk membaca zaman saat ini.
“Ideologi bukanlah warisan pemikiran yang dapat dibiarkan hidup hanya dalam buku atau slogan. Ideologi tidak mati ketika zaman berubah. Ideologi justru diuji oleh perubahan zaman dan kekuatannya dibuktikan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Diasma menutup diskusi mendalam tersebut. (sg)







