Diasma Swandaru di Seminar PA GMNI Solo Raya: Jelaskan Ancaman Penghisapan ‘Marhaen Baru’ Abad ke-21

Klaten, infonarasi.com – Struktur penindasan ekonomi dan politik hari ini telah bergeser dari pola kolonial konvensional menjadi penguasaan berbasis digital. Realitas ini melatarbelakangi Seminar Kebangsaan “Marhaenisme Menjawab Tantangan Zaman” yang digelar oleh PA GMNI Solo Raya di Gedung Paripurna DPRD Klaten, Sabtu kemarin.
Lewat keterangan tertulis yang dikirimkan ke redaksi pada Selasa (15/09/2026), Ketua Umum Genmuda ISRI, Diasma Sandi Swandaru, membedah tesis esensial mengenai siapa subjek Marhaen di era kontemporer.

“Pertanyaannya sekarang bukan lagi sekadar siapa yang memiliki alat produksi fisik. Melainkan siapa yang menguasai pasar, harga, kredit, teknologi, data, distribusi, dan pengambilan keputusan?” kata Diasma.
Diasma menguraikan potret pengemudi ojek daring, kurir, pekerja lepas (freelancer), hingga pelaku UMKM sebagai potret “Marhaen Baru”. Mereka memiliki modal transportasi atau gawai sendiri, namun tak berkutik karena aturan main, skema tarif, dan akses pasarnya dikendalikan mutlak oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence) milik korporasi platform global.
Otokritik Demokrasi Elektoral
Persoalan kedaulatan di era digital ini ikut memantik diskusi kritis dari para penyelenggara pemilu. Anggota KPU RI, Yulianto Sudrajad, melemparkan otokritik mendalam mengenai apakah proses elektoral berkala seperti pemilu dan pilkada sudah berhasil mewujudkan kedaulatan substantif, atau justru mekanismenya semakin menjauhkan hak politik dari rakyat kecil akibat dominasi kapital.

Melengkapi keresahan tersebut, Komisioner Bawaslu RI, Totok Hariyono, mengingatkan 150 kader dan alumni alumni GMNI se-Solo Raya agar tidak membiarkan teknologi mengaburkan substansi kedaulatan rakyat. “Teknologi hanyalah instrumen mekanik, namun jiwa dari demokrasi tetaplah nurani rakyat,” ungkap Totok.
Sementara itu, Ketua Bawaslu Jawa Tengah, Muhammad Amin, menekankan pentingnya pengawasan partisipatif berbasis akar rumput. Bagi Amin, kader PA GMNI Solo Raya harus mampu mengejawantahkan metode Marhaenisme untuk memotong rantai manipulasi informasi dan politik uang di era siber.
Di akhir rilis resminya, Diasma yang tengah menyelesaikan studi Doktoral di Ketahanan Nasional UGM menyimpulkan bahwa ideologi Bung Karno ini harus berani melakukan otokritik internal agar tidak sekadar menjadi bahan jualan politik elite. Marhaenisme harus mewujud dalam aksi nyata seperti pembentukan organisasi pekerja modern, koperasi platform, hingga kedaulatan data nasional. (red)







