Terjebak Narasi Keberlimpahan, Ekonom UGM Sebut Indonesia Alami Krisis Metakognisi

JAKARTA,infonarasi.com  — Ketergantungan akut pada kekayaan sumber daya alam dinilai membuat Indonesia kehilangan kepekaan terhadap krisis (sense of crisis). Kritik tersebut mengemuka dalam diskusi daring Kursus IWAK Seri #3 pada Jumat (14/8/2026).

Diskusi yang berlangsung dinamis ini dipelopori oleh Genmuda ISRI, sebuah organisasi intelektual muda nasional yang berfokus pada pengkajian ideologi, advokasi kebijakan publik, serta pembangunan kapasitas kepemimpinan berwawasan kebangsaan.

Jalannya forum dipimpin langsung oleh jajaran teras pimpinan pusat, di antaranya Ketua Umum Diasma Sandi Swandaru, Sekretaris Jenderal Herman Dirgantara, dan Bendahara Umum Achmad Zamzami beserta jajannanya.

Pakar ekonomi UGM, Rimawan Pradiptyo, menyoroti bahaya “narasi keberlimpahan” yang membuat reformasi kelembagaan berjalan lambat karena perubahan selalu dianggap sebagai beban. Akibatnya, Indonesia gagap menghadapi lingkungan global yang kini berada dalam fase VUCA dan BANI (volatil, ragu, dan penuh kecemasan).

Rimawan menyebut bangsa ini mengalami krisis metakognisi karena proses politik lebih sering meributkan figur ketimbang memperbaiki sistem kelembagaan yang compang-camping. Kelemahan struktural ini diperparah oleh besarnya sektor informal yang tidak kunjung ditransformasikan ke sektor formal.

Diskusi ini tidak hanya menjadi ruang debat, tetapi juga simposium pemikiran yang melibatkan jejaring sarjana muda, peneliti, dan pengamat ekonomi-politik lintas generasi secara nasional.

Sebagai kelanjutan dari otokritik kebangsaan ini, Genmuda ISRI tengah mempersiapkan Kursus IWAK Seri #4. Forum lanjutan tersebut akan membedah secara spesifik mengenai strategi hilirisasi industri yang berkeadilan sosial serta dampaknya terhadap ketahanan ekonomi domestik. (sg)

Baca Juga:

infonarasi.com