Pemuda Demokrat Indonesia Desak Wali Kota Pilih Kadispora yang Paham ‘Akar Rumput’, Bukan Sekadar Jago Administrasi

TANGERANG SELATAN,INFONARASI.COm– Memasuki babak akhir seleksi JPTP Eselon II.b, sorotan tajam tertuju pada posisi Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora). Tiga nama besar—Mukroni, Ucok AH Siagian, dan Budi Mulia—kini menanti restu Wali Kota Benyamin Davnie.

Ketua DPC Pemuda Demokrat Indonesia Kota Tangerang Selatan Sekaligus Anggota Majelis Pemuda Indonesia (MPI) KNPI Kota Tangerang Selatan, Sistim Ginting, S.Pd, menegaskan bahwa jabatan Kadispora memiliki beban moral dan sosial yang jauh lebih besar dibandingkan jabatan administratif lainnya.

Menurutnya, sektor kepemudaan di Tangsel saat ini membutuhkan “obat kuat” berupa kebijakan yang visioner dan inklusif. 

Sistim Ginting memberikan catatan kritis bahwa Dispora ke depan tidak boleh lagi hanya memposisikan pemuda sebagai pelaksana proyek semata. Ia menekankan beberapa kriteria mutlak yang harus dipertimbangkan Wali Kota: 

Sosok seperti Mukroni dinilai memiliki pemahaman kuat terhadap kondisi lapangan dan akar rumput di wilayah Tangsel.

Jika Wali Kota memprioritaskan perbaikan serapan anggaran, figur seperti Ucok Siagian dinilai relevan. Namun, untuk lompatan prestasi atlet dan pemberdayaan pemuda, diperlukan figur yang berani menjadi game changer seperti Budi Mulia yang memiliki latar belakang dunia pendidikan.

Visi Integrasi Sosial: KNPI mendesak Kadispora baru mampu mengoneksikan potensi pemuda dengan isu krusial daerah, seperti melibatkan sarjana muda kesehatan dalam penanganan stunting atau penguatan ekonomi kreatif. 

Proses seleksi ini juga diiringi dengan desakan transparansi. KNPI bahkan sempat mendorong adanya uji publik bagi calon Kadispora untuk membedah kapasitas mereka secara terbuka.

Salah satu isu utama yang dititipkan adalah realisasi Gedung Pemuda sebagai ruang konsolidasi dan kreasi yang selama ini dinilai masih sangat minim di Tangerang Selatan. 

“Siapa pun yang dipilih nanti, dia harus mampu membangun ekosistem, bukan sekadar membangun gedung olahraga. Kami butuh figur yang memiliki kapasitas dan integritas untuk menjaga prinsip meritokrasi tetap tegak,” tegas Sistim Ginting. 

Keputusan kini sepenuhnya di tangan Benyamin Davnie. Akankah ia memilih sosok birokrat murni, atau pemimpin yang berani merangkul dinamika pemuda yang haus akan perubahan? (red)

Baca Juga:

infonarasi.com