Waspada Penularan Virus Hanta Mematikan: Kemenkes Konfirmasi 23 Kasus di 9 Provinsi

JAKARTA,INFONARASI.COM– Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengeluarkan peringatan keras bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan Hantavirus.

Berdasarkan data terbaru hingga minggu ke-16 tahun 2026, tercatat 23 kasus konfirmasi dengan tiga kematian, yang menunjukkan tingkat fatalitas (CFR) cukup tinggi mencapai 13%.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, mengonfirmasi bahwa seluruh kasus tersebut didiagnosis sebagai Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang dipicu oleh strain Seoul Virus.

“Situasi ini berskala nasional. Dari 23 kasus positif, tiga pasien meninggal dunia, sementara sisanya dinyatakan sembuh,” ujar Aji dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (08/05/2026).

Kasus-kasus ini terdeteksi di sembilan provinsi, dengan konsentrasi tertinggi di Jakarta (6 kasus), D.I. Yogyakarta (6 kasus), dan Jawa Barat (5 kasus). Provinsi lain yang melaporkan kasus meliputi NTT, Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Banten, dan Jawa Timur.

Kemenkes memberikan perhatian khusus karena berdasarkan studi Rikhus Vektora, hewan pembawa (reservoir) virus ini, yakni tikus dan celurut, telah ditemukan di 29 provinsidi Indonesia. Hal ini menandakan risiko penyebaran yang sangat luas di masa depan.

Penularan Hantavirus ke manusia terjadi melalui kontak erat dengan tikus atau celurut yang terinfeksi.

Masyarakat perlu mewaspadai beberapa jalur penularan utama:
1.Paparan Ekskresi: Menghirup udara yang terkontaminasi atau menyentuh urine dan feses tikus.

2.Sekresi Hewan: Kontak langsung dengan air liur tikus, misalnya melalui gigitan.

3.Lingkungan Kotor: Virus dapat bertahan di area yang menjadi sarang tikus, sehingga kebersihan rumah dan sanitasi menjadi faktor kunci pencegahan.

Berbeda dengan Andes Virus yang pernah memicu wabah di kapal pesiar, jenis Seoul Virus yang merebak saat ini sangat erat kaitannya dengan keberadaan tikus domestik di lingkungan pemukiman.

Kemenkes saat ini terus melakukan penilaian risiko dan mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam tinggi yang disertai gangguan fungsi ginjal atau tanda pendarahan, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan tikus.

Karena hingga saat ini belum ada vaksin untuk mencegah infeksi Hantavirus pada manusia, Kemenkes dan para ahli kesehatan menekankan bahwa pencegahan utama adalah melalui pengendalian populasi tikus dan menjaga kebersihan lingkungan rumah.

Berikut adalah panduan langkah pencegahan yang disarankan:
1.Tutup Akses Masuk Tikus: Segera periksa dan tutup semua celah atau lubang di dinding, atap, maupun pipa saluran air yang bisa menjadi jalan masuk tikus ke dalam rumah.

2.Kelola Sampah dan Makanan: Simpan semua bahan makanan dalam wadah tertutup rapat. Jangan biarkan sampah menumpuk di dalam rumah; gunakan tempat sampah yang memiliki tutup rapat agar tidak mengundang kehadiran tikus.

3.Prosedur Pembersihan yang Aman:Jangan Menyapu atau Memvakum: Hindari menyapu atau menyedot debu di area yang dicurigai terkontaminasi kotoran tikus, karena hal ini dapat membuat partikel virus terbang ke udara dan terhirup.

4.Gunakan Disinfektan: Semprot area yang terdapat kotoran atau urin tikus dengan larutan disinfektan atau campuran pemutih pakaian dan air (rasio 1:10). Biarkan selama 5-10 menit sebelum dibersihkan dengan kain lembap.

5.Ventilasi: Sebelum membersihkan ruangan yang lama tertutup (seperti gudang atau loteng), buka semua pintu dan jendela selama minimal 30 menit untuk sirkulasi udara.

6.Gunakan Alat Pelindung Diri (APD): Selalu gunakan masker (disarankan jenis N95 jika membersihkan area berisiko tinggi) dan sarung tangan karet saat menangani area yang berpotensi menjadi sarang tikus.

7.Cuci Tangan dengan Sabun: Biasakan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun segera setelah selesai beraktivitas di lingkungan yang kotor atau setelah melakukan pembersihan.

Masyarakat juga diingatkan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot hebat, atau gangguan buang air kecil setelah terpapar area yang banyak dihuni tikus. (system)

Baca Juga:

infonarasi.com